.post img{ opacity:0.5; filter:alpha(opacity=40); this.style.opacity=6; border-radius:8px; } .post img:hover{ opacity:100; filter:alpha(opacity=40); this.style.opacity=1; }

Minggu, 07 April 2013

Tata Cara dan bacaan Shalat

Hay sob,pada postingan kali ini sedikit saya ingin berbagi kepada para sobat yang mungkin masih awam tentang tata cara sholat yang baik atau pemula.Mudah-mudah ada manfaat nya.

 TATA CARA SHALAT

1. Berdiri tegak. 
Berdiri tegak ini bagi yang mampu. Apabila tidak mampu berdiri, karena sakit atau yang lainnya, boleh dikerjakan dengan duduk atau berbaring. Berdirinya harus menghadap ke kiblat yaitu menghadap ke Ka’bah. Oleh karena kita berada di Indonesia, maka kita menghadap ke barat. Jangan lupa, pandangan mata lurus ke tempat sujud. Kedua telapak tangan lurus di samping badan. Lalu membaca niat salat salat sesuai dengan salat yang akan dilakukan. Kalian sudah tahu niat salat fardu kan. Coba lafalkan niat salat yang telah kalian pelajari. 
2. Takbiratul Ihram 
Setelah siap, lakukan takbiratul ihram, yakni mengangkat kedua tangan sejajar bahu, dan jari-jarinya sejajar dengan telinga. Telapak tangan menghadap ke arah kiblat. Takbiratul ihram ini merupakan takbir pertama dalam gerakan salat dengan membaca takbir: اَللهُ اَكْبَرْ : Allah Maha Besar 
3. Bersedekap
Selesai mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, lalu kedua tangan diletakkan di atas dada atau perut. Tangan kanan menutup pergelangan tangan kiri. Bersedekap ini harus dilakukan dengan sempurna. Ketika bersedekap, kita membaca do’a iftitah, surat Al-Fatihah, dan surat lain dalam Al-Qur'an 
4. Membaca Doa Iftitah 
Membaca doa iftitah merupakan sunah salat. Bacaan doa iftitah sebagai berikut. Allahu Akbar. Kabira, walhamdu lillahi kasira. Wa subhanallahi bukratan wa asila. Inni wajjahtu wajhiya lillazi fataras samawati wal arda hanifam musliman wama ana minal musyrikin. Inna solati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin. La syarika lahu wabizalika umirtu wa ana minal muslimin. Artinya: ”Allah yang Maha agung lagi maha besar, segala puji yang begitu banyak hanya milik Allah, mahasuci Allah pada pagi hari dan sore hari. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan Pencipta seluruh langit dan bumi dengan penuh kepasrahan dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata-mata untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sesuatu pun yang menyekutui-nya. Demikianlah aku diperintahkan dan aku termasuk orang-orang muslim.” Bacaan iftitah dapat dengan membaca doa berikut. Allahumma ba’id baini wa baina khatayaya kama ba’adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqini min khatayaya kama yunaqqas saubul abyadu minad danas. Allahummag silni min khatayaya bil ma’i was salji wal barad. Artinya : “Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahanku sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, basuhlah kesalahanku dengan air, es, dan embun.” 
5. Membaca Surat Al-Fatihah
 Setelah selesai membaca do’a iftitah, kemudian membaca Surat Al-Fatihah. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Bismillahirrahmanirrahim اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Alhamdulillahi rabbil ‘alamin الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Arrahmanir rahim مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ Maliki yaumid din إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ Iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in إِهْدِنَا الصِّّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ Ihdinas shiratal mustaqim صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِيْنَ Shiratal lazina an‘amta ‘alaihim, ghairil maghdubi ‘alaihim, waladh-dhallin Artinya : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. 
6. Membaca surah-surah Al-Qur'an 
Setelah selesai membaca Surat Al-Fatihah, kemudian kita membaca salah satu surat dalam Al-Qur'an. Misalnya surat pendek seperti Surat An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, Al-Asr, atau surah lain yang telah kalian hafal. 
7. Rukuk 
Setelah selesai membaca salah satu surat pendek, kemudian kita melakukan gerakan rukuk. Rukuk dengan membungkukkan badan, tangan memegang lutut, pandangan mata ke tempat sujud. Dalam rukuk ini kita membaca : سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ x 3 Subhanaka rabbiyal azimi wa bihamdih 3x Artinya : Maha suci Tuhanku Yang Maha agung, dan segala puji baginya. سُبْحَانَك اَللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِي x 3 Subhanaka allahumma rabbana wa bihamdika allahummagfirli. 3x Artinya: Maha suci Engkau, wahai Tuhan, Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu, wahai Tuhan, berilah aku ampunan. 
8. Iktidal
Setelah selesai rukuk, gerakan berikutnya adalah iktidal, yaitu bangun dari rukuk, dengan berdiri tegak. Ketika bangun dari rukuk kita membaca سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ Sami’allahu liman hamidah Artinya : Allah mendengar orang memuji-Nya. Setelah selesai membaca kalimat tersebut, kemudian kita membaca bacaan berikut. رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّموتِ وَ مِلْءُ اْلأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ Rabbana lakal hamdu mil’us samawati wa mil’ul ardi wa mil’u ma syi’ta min syai’in ba’du. Artinya: Wahai Tuhan kami, segala puji adalah milik-Mu, mencakup seluruh langit, dan seluruh bumi dan segenap yang Engkau kehendaki selain dari itu 
9. Sujud
Setelah iktidal, kemudian kita bersujud. Sujud dikerjakan dengan menempelkan dahi, kening, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari kaki menyentuh lantai tempat sujud kita. Dalam sujud ini kita membaca:
 سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ x 3 Subhanaka rabbiyal azimi wa bihamdih 3x Artinya : Maha suci Tuhanku Yang Maha tinggi, dan segala puji baginya.
 سُبْحَانَك اَللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِي x 3 Subhanaka allahumma rabbana wa bihamdika allahummagfirli. 3x Artinya: Maha suci Engkau, wahai Tuhan, Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu, wahai Tuhan, berilah aku ampunan. 10. Duduk di antara dua sujud
 Setelah selesai sujud pertama, kemudian bangkit dari sujud lalu duduk di atas telapak kaki kiri. Jari kaki kanan masih menyentuh lantai, dengan diarahkan ke kiblat. Telapak tangan diletakkan di atas paha. Duduk semacam ini disebut duduk iftirasy (duduk bersimpuh). Dalam duduk ini membaca doa sebagai berikut. رَبِّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُُقْنيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِي وَاعْفُ عَنِّي Rabbigfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fu ‘anni. Artinya : “Tuhan, ampunilah aku, kasihanilah aku, lindungilah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki dan petunjuk, jadikan aku sehat, dan maafkan kesalahanku.” Setelah selesai duduk, kemudian dilanjutkan dengan sujud yang kedua. Bacaan sujud yang kedua sama dengan sujud yang pertama. 11. Duduk tasyahud awal 
Apabila salat yang kita kerjakan telah mendapat dua rakaat, maka setelah selesai sujud kedua, kemudian duduk. Duduk ini disebut duduk tasyahud pertama (tasyahud awal). Dalam duduk ini, jari telunjuk tangan kanan ditunjukkan, dan pandangan mata diarahkan ke ujung telunjuk kanan. Duduk tasyahud awal hanya ada pada salat yang jumlah rakaatnya 3 rakaat atau lebih yakni Zuhur, Asar, Magrib dan Isya. Sedangkan untuk salat subuh tidak terdapat duduk tasyahud awal, karena jumlah rakaatnya hanya dua. Ketika duduk tasyahud awal ini, membaca doa sebagai berikut.
 اَلتَّحِيَّاتُ ِللهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ رَسُوْلُ اللهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ مُحَمَّدٍ.
 “At-Tahiyyatu lillah. Was-salawatu wat tayyibah. Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wa barakatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibadillahis salihin. Asyhadu an la ilaha illallahu wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Allahumma salli ala muhammad, wa ala ali muhammad.” Artinya: “Segala ucapan penghormatan milik Allah, begitu pula segala karunia dan ucapan pengagungan. Semua pertolongan dan pemeliharaan untukmu, wahai Nabi, begitu pula karunia Allah, begitu pula semua karunianya. Segalaperlindungan dan pemeliharaan untuk kami dan hamba-hamba Allah yang salih. Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah., Tuhan yang tunggal, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya.” 
12. Duduk Tasyahud Akhir 
Duduk ini seperti duduk tasyahud awal. Duduk ini disebut juga duduk tawaruk yaitu seperti duduk iftirasy, tetapi telapak kakinya yang kiri dikeluarkan ke kanan, melalui bawah kaki kanan. Pantatnya sampai ke lantai. Telapak kaki kanan ditegakkan. Bacaan tasyahud akhir sama dengan bacaan pada tasyahud awal, ditambah dengan bacaan sebagai berikut.
 كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. 
Kama sallaita ‘ala ibrahim wa ‘ala ali ibrahim. Wa barik ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad. Kama barakta ‘ala ibrahim wa ‘ala ali ibrahim fil alamina innaka hamidum majid. 
Artinya: “Sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha agung. Ya Allah, berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha agung.”
Setelah selesai membaca tahiyat, kemudian dapat menambahkan dengan doa sebagai berikut.
 اَللَّهُمَّ اِنِّي اَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.
 “Allahumma inni a‘uzubika min azabi jahannama wa min azabil qabri wa min fitnatil mahya wal mamati wa min syarri fitnatil masihid dajjal.” 
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah Dajjal.” 
13. Salam
 Nah, kita sudah sampai pada akhir rangkaian salat. Salam adalah menoleh ke kanan sampai pipi kanan terlihat dari belakang sambil membaca salam, dan menoleh ke kiri sampai pipi kiri terlihat dari belakang sambil membaca salam. Bacaan salam adalah sebagai berikut.
 اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ Assalamu’alaikum warahmatullah. Alhamdulillah, anak-anak semua sudah dapat mengerjakan salat. Sekarang, jangan lupa selalu mempraktikkan salat lima waktu tersebut. Jangan lupa salat ya. Harus rajin dong. Sebagai anak Islam tidak boleh meninggalkan salat. 11. Duduk tasyahud awal Apabila salat yang kita kerjakan telah mendapat dua rakaat, maka setelah selesai sujud kedua, kemudian duduk. Duduk ini disebut duduk tasyahud pertama (tasyahud awal). Dalam duduk ini, jari telunjuk tangan kanan ditunjukkan, dan pandangan mata diarahkan ke ujung telunjuk kanan. Duduk tasyahud awal hanya ada pada salat yang jumlah rakaatnya 3 rakaat atau lebih yakni Zuhur, Asar, Magrib dan Isya. Sedangkan untuk salat subuh tidak terdapat duduk tasyahud awal, karena jumlah rakaatnya hanya dua. Ketika duduk tasyahud awal ini, membaca doa sebagai berikut. اَلتَّحِيَّاتُ ِللهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ رَسُوْلُ اللهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ مُحَمَّدٍ. “At-Tahiyyatu lillah. Was-salawatu wat tayyibah. Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wa barakatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibadillahis salihin. Asyhadu an la ilaha illallahu wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Allahumma salli ala muhammad, wa ala ali muhammad.” Artinya: “Segala ucapan penghormatan milik Allah, begitu pula segala karunia dan ucapan pengagungan. Semua pertolongan dan pemeliharaan untukmu, wahai Nabi, begitu pula karunia Allah, begitu pula semua karunianya. Segalaperlindungan dan pemeliharaan untuk kami dan hamba-hamba Allah yang salih. Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah., Tuhan yang tunggal, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya.” 12. Duduk Tasyahud Akhir Duduk ini seperti duduk tasyahud awal. Duduk ini disebut juga duduk tawaruk yaitu seperti duduk iftirasy, tetapi telapak kakinya yang kiri dikeluarkan ke kanan, melalui bawah kaki kanan. Pantatnya sampai ke lantai. Telapak kaki kanan ditegakkan. Bacaan tasyahud akhir sama dengan bacaan pada tasyahud awal, ditambah dengan bacaan sebagai berikut. كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. Kama sallaita ‘ala ibrahim wa ‘ala ali ibrahim. Wa barik ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad. Kama barakta ‘ala ibrahim wa ‘ala ali ibrahim fil alamina innaka hamidum majid. Artinya: “Sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha agung. Ya Allah, berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha terpuji lagi Maha agung.” Setelah selesai membaca tahiyat, kemudian dapat menambahkan dengan doa sebagai berikut. اَللَّهُمَّ اِنِّي اَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ. “Allahumma inni a‘uzubika min azabi jahannama wa min azabil qabri wa min fitnatil mahya wal mamati wa min syarri fitnatil masihid dajjal.” Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah Dajjal.” 13. Salam Nah, kita sudah sampai pada akhir rangkaian salat. Salam adalah menoleh ke kanan sampai pipi kanan terlihat dari belakang sambil membaca salam, dan menoleh ke kiri sampai pipi kiri terlihat dari belakang sambil membaca salam. Bacaan salam adalah sebagai berikut. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ Assalamu’alaikum warahmatullah. Alhamdulillah, anak-anak semua sudah dapat mengerjakan salat. Sekarang, jangan lupa selalu mempraktikkan salat lima waktu tersebut. Jangan lupa salat ya. Harus rajin dong. Sebagai anak Islam tidak boleh meninggalkan salat. 14. Qunut Artinya : Ya Allah tunjukan aku sebagaimana mereka yang telah engkau tunjukan. Berikan kesehatan kepadaku sebagaimana mereka yang telah engkau berikan kesehatan. Dan peliharalah aku sebagaimana orang-orang yang telah engkau peliharakan.Berilah keberkahan bagiku pada apa-apa yang telah Engkau karuniakan. Dan selamatkan aku dari bahaya yang telah Engkau tentukan.Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukannya yang kena hukum.Dan sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin.dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi.Maha suci Engkau wahai Tuhan kami dan maha tinggi. Maka bagi Engkaulah segala pujian di atas apa yang Engu Hukumkan. Aku memohon ampun dari-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.Dan semoga Allah mencurahkan rahmat dan sejahtera atas junjungan kita Nabi Muhammad dan keluarga-Nya.

Kamis, 07 Februari 2013

Keluasan Hati Menerima

By Rozzy eldirhaq, 2013
Seorang guru sufi suatu ketika menyapa muridnya, yang belakangan selalu tampak murung. “Kenapa kamu selalu murung? Bukankah di dunia ini banyak yang indah? Kemana perginya wajah bersukurmu?” sang Guru bertanya. Muridnya menjawab, “Guru, akhir-akhir ini hidup saya penuh masalah yang datang seperti tidak ada habisnya. Itu yang membuat saya sulit tersenyum.” Sang Guru tertawa terkekeh. “Begini saja,” katanya “Kamu ambil segelas air dan dua genggam garam untuk memperbaiki hatimu.” Si murid merasa heran, tapi tanpa bertanya dia pergi. Tak lama dia kembali dengan gelas dan segenggam air.

 “Masukkan air ke gelas itu, lalu masukkan garam sebanyak-banyaknya,” perintah Sang Guru. Lalu, “Aduk terus minum airnya sedikit.” Semua perintah itu dilaksanakan Si murid. Sekejap saja setelah meminum air itu, wajahnya meringis. “Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “Asin, Guru! Perut saya jadi mual!” jawab Si murid. Mendengar jawaban itu dan melihat mimik wajah muridnya Sang Guru kembali tertawa terkekeh-kekeh.

 “Sekarang kamu ikuti aku,” Sang Guru berkata sambil berjalan ke telaga. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan di situ,”perintahnya. Segera Si murid melaksanakan perintah itu. Sementara rasa asin di mulutnya belum hilang. Dia ingin membuang rasa asin dari mulutnya, tapi tidak berani. Dia sadar, tidak sopan meludah di hadapan guru.

 “Minumlah air danau itu,” kata Sang Guru sambil berjalan mencari batu di pinggir telaga untuk diduduki. Si murid menangkupkan kedua tangannya, lalu mengambil air telaga, dan meneguknya. Ketika air telaga yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya, “Bagaimana rasanya?” Si murid menjawab dengan sumringah, “Wuaaaahh, segeer sekali Guru..!” 

Tentu saja segar, karena air telaga itu berasal dari mata air di atas bukit sana. Ketika diminum, sudah pasti air itu mampu menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulut Si murid. “Terasa nggak, garam yang kamu tebarkan tadi?” tanya Sang Guru “Sama sekali nggak terasa,” jawab Si murid sambil kembali meneguk air telaga. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, dan membiarkan muridnya meminum air telaga sepuasnnya. 

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup kita ibarat segenggam garam. Tidak kurang, Tidak Lebih. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kita alami sepanjang hidup, sudah ditakar dan di jatah Allah. Jumlahnya tetap, tidak berkurang dan tidak bertambah. Tidak ada satupun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.” Si murid mendengarkan petuah gurunya dengan takzim.

 “Tapi Nak,” lanjut Sang Guru, “Rasa ‘asin’ dari penderitaan hidup sangat tergantung dari luasnya hati kita yang menampungnya. Jadi supaya tidak merasa menderita, maka berhentilah menjadi gelas. Jadikan hati di dalam dada kita seluas telaga, agar kita bisa menikmati hidup.” 

Dari Cerita diatas memberikan pelajaran kepada kita bahwa pada hakekatnya masalah yang datang kepada kita sangat tergantung seberapa luas hati kita bukan seberapa berat masalah yang kita hadapi. Sumber dari segala masalah yang tak kunjung tuntas atau bahkan masalah yang ada semakin membesar itu karena hati kita yang sempit. Sempit sesempit Gelas.

 Hati yang sempit bisa berada dalam diri siapapun dan kapanpun. Didalam kehidupan keluarga, sempitnya hati ditunjukkan oleh perilaku seorang suami/isteri yang selalu menuntut hak dan menghitung-hitung kebaikan yang sudah diberikan kepada keluarganya. Akibatnya dirumah sering muncul konflik, yang bisa jadi secara perlahan akan membuat masing-masing merasa lelah menghadapi perilaku pasangan hidupnya. Ujungnya bisa ditebak. Hati yang sempit bisa menjadi penyebab awal terjadinya Perceraian.

 Di dalam kehidupan di kantor, hati yang menyempit bisa terjadi ketika Anda gagal dipromosikan, batal naik jabatan, pekerjaan tidak dihargai, atasan menegur dengan keras, rekan kerja sombong dan lain-lain. Ketika hati menyempit, boleh jadi Anda akan lebih mudah marah, sering mengeluh, bekerja asal-asalan dan melakukan hal-hal negatif. Ketika itu terjadi, bisa jadi muncul masalah baru. Misalnya; Anda konflik dengan atasan, bahkan mungkin akhirnya Anda dipecat. 

Sebetulnya di dalam hidup ini, ada sesuatu yang bisa dikontrol dan yang tidak bisa di kontrol. Masalah hidup tidak bisa di kontrol, karena selain datang tiba-tiba, juga bisa muncul dari mana saja. Terkena musibah, kecelakaan, mendapat atasan yang selalu menyulitkan, terkena PHK, dan sebagainya. Itu semua datangnya tidak bisa di kontrol dan ditolak. Kita hanya bisa menerima saja.

 Meskipun begitu, ada sesuatu yang tetap bisa kita kontrol, yaitu KONDISI HATI. Kontrol diri dengan meluaskan hati, pada saat terkena musibah. Lakukan itu dengan hati, karena dengan meluaskan hati adalah pekerjaan hati, bukan pekerjaan fisik atau fikiran Anda. Sekedar mengingatkan, bahwa kita diberi aset yang sama oleh Sang Pencipta; aset fisik atau metafisik, aset kecerdasan dan aset hati.

 Untuk memperluas hati dapat kita lakukan yaitu, nikmati masalah. Apaila Anda sering menikmati masalah hidup, maka jalan menuju kehidupan Sukses sudah terbuka lebar. 

Masalah kok dinikmati? Benar, karena hidup adalah Rangkaian Masalah. Kita tidak perlu mencari masalah, karena masalah akan datang dengan sendirinya. Apapun yang kita lakukan pasti akan mendatangkan masalah. Anda berbisnis pasti akan menghadapi masalah. Berdiam diri di rumahpun, pasti dihampiri masalah.

 Ketika punya pimpinan yang sangat visioner, Anda bisa kedodoran mengikutinya dan itu berarti masalah bagi anda. Sebaliknya ketika Pemimpin Anda kurang cerdas, bisa jadi masalahnya menjadi lebih besar dan berat, karena mungkin gerak perusahaan berjalan lambat dan tidak bisa mengikuti perkembangan dengan cepat.

 Masalah memang tidak ubahnya darah di dalam tubuh manusia, selalu mengalir selama jantung masih berdetak. “Masalah hidup akan hilang bersama hilangnya kita di muka bumi.” Bila tidak ingin kehidupan Anda tidak dihampiri masalah, lebih baik tidur saja di dalam tanah. JADI KENAPA HARUS LARI? Nikmati saja masalah

Selasa, 05 Februari 2013

soal ulangan kls.5 semester 2 sd/mi

sob,pada kesempatan kali ini untuk kali pertamanya saya membuat sebuah postingan di blog ini,awalnya saya berpikir, buat postingan itu apa? gimana caranya? dan untuk apa? (maklum orang baru di dunia blogger)singkat cerita, akhirnya karena banyak intip-intip blog para blogger2 kawakan dan tanya-tanya pada temen yang udah punya blog,bla,bla,bla,pada kesimpulannya saya tertarik buat mencoba,untuk posting perdana saya akan berbagi tautan tentang soal2 ulangan kelas V semester 2 sd/mi, karena kebetulan belakangan ini lagi rapi2in soal buat persiapan latihan siswa,Ya udah disamping untuk arsip sekaligus berbagi kepada rekan2 yang mungkin nanti membutuhkan berkaitan tentang soal-soal ulangan siswa kls.v sem.2sd/mi.tapi pada postingan saya kali ini baru Mapel umum nya saja.silahkan sobat download file yang kamu butuhkan.
Matematika kelas 5 semester 2 klik di bawah ini :
 1.UH1MatematikaKelasV
 2.UH2MatematikaKelasV
 3.UH3MatematikaKelasV
 4.UH4MatematikaKelasV

Bahasa Indonesia kelas 5 semester 2 klik di bawah ini :
1.UH1bahasaindonesia klsV
2.UH2bahasaindonesia klsV
3.UH3bahasaindonesia klsV

 PKn kelas 5 semester 2 klik di bawah ini :
1.UH1PKnKelasV
2.UH2PKnKelasV
3.UH3PKnKelasV
4.UH4PKnKelasV
5.UH5PKnKelasV

IPA kelas 5 semester 2 klik di bawah ini :
1.UH1IPA KELAS V
2.UH2IPA KELAS V
3.UH3IPA KELAS V
4.UH4IPA KELAS V
5.UH5IPA KELAS V


Semoga Bermanfaat,Bravo dunia Pendidikan......

Senin, 14 Januari 2013

Jadilah Pelita

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.” Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.” Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!” Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu. Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!” Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!” Si buta tertegun.. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.” Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing. Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?” Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.” Senyap sejenak. secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?” Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan. Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.” Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!). Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf. Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat. Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu. Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana. Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan. Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi. Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.